TEKNIS PENULISAN ALIF LAYYINAH DAN ALIF YABISAH DALAM PEMBELAJARAN QAWAID AL-IMLA’


TEKNIS PENULISAN ALIF LAYYINAH DAN ALIF YABISAH DALAM PEMBELAJARAN QAWAID AL-IMLA’
Uswatun Hasan

Abstrak

            Dalam mempelajari bahasa Arab, seseorang harus memiliki bekal dan skill khusus dalam menulis huruf-huruf Arab, agar seseorang bisa menulis dengan baik dan benar,  harus dibekali dengan berbagai materi salah satunya teknis penulisan Alif Layyinah dan Alif Yabisah dalam pembelajaran Qawaid al-Imla’. Qawaid al-Imla’ adalah salah satu materi keahlian khusus yang diberikan untuk membekali seseorang yang mempelajari bahasa Arab agar mampu untuk menulis Arab dengan baik dan benar. Alif layyinah adalah huruf tertentu yang tidak menerima harakat, sedangkan Alif Yabisah adalah huruf hijaiyyah yang tidak mempunyai bentuk sendiri dalam tulisan bahasa Arab seperti halnya huruf-huruf hijaiyyah (ل)، (س)، (ب). Tujuannya adalah agar tidak hanya mampu menulis dengan baik dan benar. Sehingga untuk mencapai tujuan tersebut, akan jurusan pendidikan Bahasa Arab (PBA) menyelenggarakan proses pembelajaran Qawaid al-Imla’ selama satu semester. Proses pembelajaran Qawaid al-Imla’ ini sehingga meliputi materi, metode pembelajaran, proses pembelajaran, media pembelajaran dan evaluasi/penilaian.

Kata Kunci : Alif  layyinah dan alif yabisah, bahasa Arab, qawaid al-imla.

Pendahuluan

Imla’ atau diterjemahkan dengan dikte merupakan bagian dari keterampilan menulis (maharah al-kitabah). Muatan yang berada di dalam imla’ meliputi dua hal, yaitu menulis dan mengucapkan kata serta peletakkan tanda baca secara tepat.
Imla’, dalam arti yang luas memiliki pengertian-pengertian yang banyak sekali, diantaranya adalah sebagai berikut:
a.    Imla’ adalah kajian tentang teori-teori menulis dan melafalkan huruf hijaiyyah secara benar dalam bentuk tunggal, kata atau kalimat dan teori-teori tentang tanda baca sekaligus aplikasinya dalam teks
b.    Imla yang berkaitan dengan orang yang mendikte dan orang yang didikte, adalah membacakan teks kepada pelajar, baik kata demi kata atau kalimat demi kalimat serta meminta siswa agar menulisnya.
c.    Imlajuga didefinisikan sebagai penulisan lafadz dengan huruf hijaiyyah dari sebuah pengucapan
Dari pengertian-pengertian di atas, maka dapat dikatakan bahwa imlak adalah menyampaikan atau mendiktekkan kepada orang lain dengan bantuan pengucapan dan suara agar orang yang didikte memindahkannya berupa tulisan secara baik dan benar sesuai dengan aturan bahasa yang digunakan.
Alif adalah huruf tertentu yang tidak menerima harakat. Dan mempunyai dua tempat, yaitu ditengah kalimat dan di akhir kalimat.
Alif Layyinah adalah alif yang tidak menerima harakat. Cara membaca alif ini mirip dengan membaca alif biasa pada saat menjadi tanda baca mad namun demikian untuk membedakan keduanya alif mad dibaca dengan nada datar atau meninggi sedangkan alif layyinah atau maqshuroh dibaca dengan nada turun.(A. haru Muhammad)
Alif Yabisah (Hamzah) adalah bagian dari huruf hijaiyyah, yang pada dasarnya tidak ada perbedaan dengan huruf-huruf hijaiyyah yang lain. Hamzah yang terdapat didalam Al-Qur’an terbagi menjadi 2 bagian yaitu hamzah washal dan hamzah qatha’.
Alif Yabisah (huruf hamzah) merupakan fenomena di tengah masyarakat, yang pada umumnya masih dianggap sama dengan alif, padahal keduanya memiliki perbedaan yang sangat signifikan dalam berbagai aspek, baik penulisan, fungsi, maupun bentuk.
Adapun masalah yang di dapat dalam pembelajaran Imla’ yaitu tentunya tidak berjalan tanpa hambatan. Hambatan tersebut mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam penulisan imla’, yaitu tulisan dikte diluar kaidah imla’. Dan kesalahan-kesalahan dalam penulisan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu.
a.    Faktor intern pelajar (yang didikte), meliputi rendahnya motivasi atau minat belajar, kualitas kecerdasan yang rendah, pendengaran atau penglihatan yang kurang, hilangnya konsentrasi dan perhatian ketika belajar dan kurangnya waktu belajar.
b.    Faktor intern bahasa, meliputi panjang dan pendeknya teks yang akan didiktekan kepada pelajar, seperti teks yang lebih tinggi tingkatnya daripada kemampuan pelajar, atau banyaknya kata-kata dalam teks yang rumit dan adanya perbedaan antara huruf, kata atau kalimat yang diucapkan dengan yang ditulis, seperti : Kata الشمسُ dan diucapkannya : as-syamsu.
c.    Faktor intern pengajar (pendikte),meliputi pengucapan yang terlalu cepat atau suara yang terlalu rendah, tidak adanya perbedaan pengucapan antara satu huruf dengan huruf yang lain. Lemahnya persiapan kebahasaan pengajar dankurangnya perhatian dan petunjuk pengajar terhadap kesalahan pelajar untuk melakukan perbaikan.
Tujuan pembelajaran Imla’ yaitu keberadaan pembelajaran imla’ syarat dengan tujuan. Secara umum, diharapkan setelah mempelajari imla’, pelajar dapat mengapplikasiannnya dalam praktik penulisan arab sehari-hari.
Adapun tujuan-tujuan pembelajaran imla’ yang lainnya adalah melatih pelajar dalam menulis huruf dan kata secara benar sesuai dengan pemilik Bahasa Arab asli, membantu pelajar secara lebih yang mengalami kesulitan dalam menulis imla’, membekali pelajar dengan pengetahuan dan informasi tentang teori-teori penulisan huruf arab serta mengarahkan pelajar menggunakan indera pendengaran, penglihatan, pengucapan dan jari-jarinya secara maksimal.

Pembahasan

A.  Alif Layyinah
1.    Pengertian
Alif adalah huruf tertentu yang tidak menerima harokat. Dan mempunyai dua tempat, yaitu ditengah kalimat, dan akhir kalimat. Alif layyinah adalah alif yang tidak menerima harakat. Cara membaca alif ini sangat mirip dengan membaca alif biasa pada saat menjadi tanda baca mad, namun demikian untuk membedakan keduanya alif mad dibaca dengan nada datar atau meninggi sedangkan alif layyinah atau maqshuroh(Abdussalam)dibaca dengan nada turun. Alif layyinah adalah perpanjangan suara yang muncul dari penyempurnaan fathah dari huruf sebelumnya.
Alif layyinah biasa disebut dengan “Alif” saja. Ia selalu mati/sukun,dan tidak menerima harakat. Alif layyinah mempunyai dua tempat, yaitu di tengah kata dan akhir kata.
Contohnya :(Dr. Ibnu, Rawandhy N. Hula, Qawaid Al-Imla’ Wa Al-Khat)

No
Tertulis
Dibaca
Tempat
1
كِتَابٌ
كِتَابٌ
Tengah Kalimat
2
عَالِمٌ
عَالِمٌ
Tengah Kalimat
3
سَوَاءٌ
سَوَاءٌ
Akhir Kalimat
4
سَمَاءٌ
سَمَاءٌ
Akhir Kalimat

2.    Pembagian
a)    Alif Mutawasitoh(Ibid)
Alif ini adalah alif mutlaq, yaitu dia tidak akan bisa dibaca kecuali dirangkai dengan kata lain, baik di tengah atau semi tengah. Adapun yang benar-benar ditengah ia jatuh setelah satu huruf atau lebih dari suatu kata. Seperti kata : قَلَ
Dan alif mutawashitoh yang semi tengah ia berada pada akhir kata, namun diikuti oleh huruf atau kata lain seperti ta’marbuthoh, dhomir atau ma istifham.
b)    Alif Mutatharrifah
Alif Ghulayini menamai Alif Layyinah dengan alif al mutatharrifah, alif di akhir kalimat. Sebab alif di akhir kalimat nanti tidak hanya berbentuk layyinah (bengkok), tetapi juga yabisah (berdiri).
3.    Macam-macam
a.    Alif Layyinah di Tengah Kata(Dr. Ibnu, Rawandhy N. Hula, Qawaid Al-Imla’ Wa Al-Khat)
Alif Layyinah yang berada ditengah kalimat secara muthlaq ditulis dengan alif baik menengahinya tersebut disebabkan oleh huruf asal.
Contoh ;قال، قام، صام، م atau selainnya, contoh : فَتاه، ليلاى، مقتضام،يخشاه، يرضاه، يخشانى، ألام، علام،حتام
b.    Alif Layyinah di Akhir Kata
Alif Layyinah yang berada di akhir kata terkadang ditulis dengan ya’atau (alif ta’tanits maqshurah) yaitu ;
·           Didalam setiap isim yang terdiri dari tiga huruf yang terdapat alif pengganti dari ya’. Contoh الفتى، الهدى kalau alifnya mengganti wawu maka ditulis alif. Contoh القفا، العصا، العلا، العصا
·           Didalam setiap isim arobi yang lebih dari tiga huruf dan huruf sebelum terakhir bukanya’ contohصغرى، كبرى، حبلى، خجلى  dan kalau huruf sebelum terakhir berupaya’ maka ditulis alif dengan secara mutlaq contoh دنيا، قضا، ر، محيا، ثر
·           Didalam lima isim alam ajami contohموسى، عيسى، متى، كسرى، بخارى  dan isim alam yang selain lima alam ini ditulis dengan alif   دارا، زليجا، فا، بنها، شبرا
·           Didalam lima isim mabni contoh لدى، أنى، متى، اولى، الالى selain lima isim mabni tersebut ditulis dengan alif contohأ، اذا، مهما،
·           Didalam setiap fi’il tiga huruf yang alifnya mengganti dari ya’ contohسعى،  مشى، رعى، رمى dan kalau alifnya menggantiwawu maka ditulis alif. Contoh دعا، غزا، عفا dan ada sebagian ulama menulis bagian yang kelima ini dengan alif secara muthlak.
·           Didalam setiap fi’il yang lebih dari tiga huruf apabila huruf sebelum alif bukanya’ أهدى، اهتدى، اتى، خلى، صلى dan apabila berupa ya’ maka ditulis alif karena benci berkumpulnya dua bentuk ya’. Contoh يحيا، استحيا، تبيا، تز
·           Didalam empat huruf seperti الى، على، حتى، بلى sedangkan huruf yang lain ditulis alif contoh لا، هلا، خلا
·           Dan didalam keterangan diatas terdapat dua qaidah yang umum, yaitu ;
·           Setiap alif yang berada didalam kalimat yang fa’ atau ain fi’ilnya berupa wawu maka ditulis denganya’. Contoh وعى، وقى، جوى، هوى 
·           Setiap alif yang berada didalam kalimat yang ain fi’ilnya berupa hamzah juga ditulis dengan alif karena ulama benci kepada berkumpulnya dua alif. Contoh ى، شأى، فأى
Sebagian ulama berpendapat bahwa kalimat yang diakhiri dengan ya’ itu ditulis dengan alif didalam tujuh tempat, yaitu ;
a.    Didalam sajak, yang berupa badi’ musyakalah dari kalimat lain yang ditulis dengan alif. Contoh : سا مح أخاك أذا هفا، وأنجده أذا هوا (هوى)
b.    Untuk menyerasikan akhir syi’ir, hal ini berada di dalam qashidah yang pendek seperti qashidahnya Ibnu Duraid
أما ترى رأسى حاكى# طرةصبح تحت أذ ل الدجا
وا شتعل المبيض فى مسوده # مثل اشتعال النار فى جمر الغاضا
كانه الليل البهيم حل فى # أرجا ئه ضوء صباح فانجلاٍ
c.    Didalam badi’ musyakalah dengan bertujuan jinas seperti :
سيدا حاز رقى # بما حبانى وأولا
احسنت برا فقل لى # أحسنت فى الشكر أولا
d.    Didalam badi’ musyakalah dengan bertujuan tauriyah seperti
بروحى بدرافى الندى ما أطاع من# نهاه وقدحاز المعالى وزانها
يسا  ئل أن ينهى عن الجود نفسه # وها هوا قد بر العفاة ومانها
e.    Bertujuan mu’ayah dan ilghaz seperti
أقول لعبد لكا سقاؤ # ونحن بوادى عبد شمس وها شم
Maksudnya adalah وهىى يهى yang bermakna lemah. Dan maksud dari شم adalah fi’il dari شام tetapakan ditulis dengan وهاشم yang maksudnya menyamai dengan penyembah matahari, tujuannya agar mengarah kepada ilghaz.
a.      Kalimat datangnya berupa maqshur dan mamdud dengan dua bahasa sepertiالحلوى و  الحلواء boleh ditulis dengan alif seperti  الحلوا
b.      Kalimat yang datangnya berupa kalimat mahmuz yang menempati ditempatnya kalimat mu’tal sepertiقريت  dengan makna قرأت. Boleh ditulis dengan قرا yang sebenarnya didalam bahasa ditulis dengan قرى. Begitu juga dengan kalimat ابطا yang sebenarnya ditulis dengan ابطى  
4.    Penulisan Alif Layyinah
Alif Layyinah adalah huruf alif yang tidak berharakat, cara penulisan huruf ini tergantung letak huruf tersebut di dalam kata.
(ب)
(أ)
 يُنْظَرُ الفَتَىبالعِلْمَ و التُّقَى  .1
قال زيدٌ عنْ أهَمِّيَة الكِتَابَةِ.1
الهُدى مِنَ  الله .2
مُحَمَّدٌ فِي الفَصْلِجَاء .2
لاَتَقْرَبوْا الصَّلَاةَ و أنْتمْ سكَارَى.3
الدُّنْيَامَزْرَ عةُ الآخِرَةِ.3
اسْتَلْقَىالطِفْلُ على الفِراشِ.4

 جَاء بُخارِى/ كِسرَى/عِيسَى/مُوسَى/فِي المَسْجِدِ.5

بخارى، كسرى، عيسى، موسى.6

سَعَى، مَشَى.7


Perhatikan contoh di atas bagian (أ) dan (ب). Pada bagian (أ), alif layyinah ditulis berupa huruf alif, sedangkan pada contoh bagian (ب), alif layyinah ditulis dengan huruf ya’.
Dari contoh-contoh di atas dapat diambil beberapa kesimpulan :
-          Apabila terletak ditengah kata maka ditulis berupa alif.
-          Apabila terletak di akhir kata, maka ada dua cara penulisan dalam menulis alif layyinah :
1.    Ditulis berupa huruf Ya’ pada tujuh keadaan berikut :
a.    Pada setiap ism ats-tsulatsi (kata benda yang mempunyai tiga huruf) yang memiliki alif sebagai ganti perubahan dari ya’.
 Contohnya : الهدى، الفتى
b.    Pada setiap ism ar-ruba’I (kata benda yang mempunyai empat huruf) atau lebih, yang huruf sebelumnya bukan huruf ya’.
Contohnya :سكارى، المُرتضى
c.    Pada empat nama non-Arab berikut ini : بخارى، كسرى، عيسى، موسي
d.    Pada lima ism yang mabni (bentuknya tetap) berikut ini : أولى، متى، أنى، لدى
e.    Pada setiap fi’il ats-tsulatsi (Kata kerja yang mempunyai tiga huruf) yang memiliki alif sebagai ganti perubahan dariya’.
Contohnya :سعى، مش، هَدى
f.    Pada setiap fi’il ar-ruba’i (kata kerja yang mempunyai empat huruf) atau lebih yang huruf sebelumnya bukan huruf ya’.
Contohnya : اهتدى، أهدى
g.     Pada empat kata berikut ini : (الجواب، بلى، متىن على) في، ألى
B. Alif Yabisah
1.  Pengertian
Hamzah adalah huruf hijaiyyah yang tidak mempunyai bentuk sendiri dalam tulisan Arab seperti halnya huruf-huruf hijaiyah lainnya : ( ب ), ( س ), ( ل ), dan lainnya. Karena itu huruf hijaiyah hanya berjumlah 28 sebab tidak memasukkan hamzah di dalamnya. Ra’sul’ain atau kepala ‘ain yang biasanya dilambangkan dengan bentuk “ ء “bukan bentuk asli hamzah. Tanda ini hanya dipergunakan untuk menandai hamzah qatha’ dan membedakannya dengan hamzah washal.
Hamzah adalah huruf hijaiyah yang menerima vokal (harakat). Berbeda dengan alif. Alit tidak menerima harakat dan selamanya menyandung sukun. Hamzah terletak di awal, di tengah atau di akhir kalimat. Alif hanya mempunyai satu bentuk, yaitu bentuknya sendiri.(Munjia’ah) Sedangkan hamzah karena dia tidak mempunyai bentuk sendiri maka terkadang ditulis dalam bentuk alif, wawu, atau ya.
2.  Pembagian dan contohnya
Alif yabisah (hamzah) memiliki 2 bagian, yaitu :
a.  Hamzah Qatha’
Hamzah qatha’ berarti hamzah yang terputus, dalam arti cara membacanya terputus, tidak diteruskan karena itu ia tetap terbaca. Sedangkan menurut ulama Qurra’ hamzah qatha’ adalah :
هَمْزَةُ الْقَطَعِ هِيَ الْهَمْزَةُ  الَّتِيْ تَثْبُتُ فِيْ النَّظْقِ دَائِمًا سَوَاءٌ الْكَلاَمِ أَمْ فِيْ وَصِلَهِ.
 Hamzah yang dapat diucapkan selamanya, baik permulaan kalimat maupun ditengah-tengahnya.

Pada hamzah qatha’ dalam Mushaf Ustmani ditandai dengan (ء) pada huruf (۱). Jika alif berharokat fathah dan dhammah, maka ( أُ. أَ ) hamzahnya diatas, tetapi jika alif berharakat kasrah, maka ( إِ ) hamzahnya dibawah alif.
Contohnya :

No
Tertulis
Dibaca
Tempat
1
إِخْوَاةٌ
إِخْوَاةٌ
Awal kalimat
2
أَتَيْنَا
أَتَيْنَا
Awal kalimat
3
جَاءَ كُمْ
جَاءَ كُمْ
Tengah kalimat
4
شُهَدَااكُمْ
شُهَدَااكُمْ
Tengah kalimat

b. Hamzah Washal
Hamzah washal berarti hamzah yang sambung atau tembus, dalam arti hamzah itu tidak dibaca ketika ditengah-tengah kalimat, namun dibaca jika diawalnya. Pengertian menurut Ulama Qurra’
هَمْزَةُ الْقَطَعِ هِيَ الْهَمْزَةُ  الَّتِيْ تَظْهَرُ فِيْ النَّظْقِ اِذَاجَاءَتْ فِيْ بَدَءِ الْكَلاَمِ اَمْ وَلاَ تَظْهَرُ وَصِلَتْ بِمَا قَبْلَهَا.
Hamzah yang tampak diucapkan jika diawal kalimat, tetapi tembus (tidak tampak) jika disambung dengan huruf lain.

Pada hamzah washal dalam mushaf Ustmani tidak ditandai seperti hamzah qatha’, tetapi cukup dengan huruf asli saja. Yang peril diingat bahwa hamzah washal ini tidak seperti alif huruf mad, sebab alif huruf Mad selamanya mati, sedangkan hamzah washal tetap hidup, walaupun ketika disambung tidak diucapkan.
Contohnya :(I. bin M. bin A. bin Y. I. J. Muhammad)

No
Tertulis
Dibaca
Tempat
1
اِتَّبِعُوْا
اِتَّبِعُوْا
Awal kalimat
2
اِهْبِطَوْا
اِهْبِطَوْا
Awal kalimat
3
عِيْسِ ابْنِ مَرْيَمْ
عِيْسِ ابْنِ مَرْيَمْ
Tengah kalimat
4
بِئْسِ الْاِسْمُ
بِئْسِ الْاِسْمُ
Tengah kalimat
3.  Macam-macam
Ada beberapa macam bentuk hamzah, yaitu :
·      Hamzah Washol
·      Hamzah Qot’i
·      Penulisan Hamzah ditengah Kalimat diatas Nabroh ya’
·      Penulisan Hamzah ditengah Kalimat diatas huruf wawu’
·      Penulisan Hamzah ditengah Kalimat, sendirian
·      Penulisan Hamzah diakhir Kata
4.  Penulisan
1.  Cara penulisan hamzah yang ada diawal kalimat
Hamzah yang ada dipermulaan kalimat baik hamzah washol atau qatha’ itu ditulis dengan alif.
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ الَّذِى أَمَرَ النَّاسَ بِالصَّلاَةِ.
Hamzah washol itu berada didalam 4 , yaitu :
a)    Isim yang sepuluh :
اِسْمٌ, اِسْتٌ, اِبْنٌ, اِبْنَةٌ, اِبْنُمُ, اِمْرُؤٌ, اِمْرَأةٌ.
b)   ال  baik Al-Syamsiyah/Al-Qamariyah.
c)    Fi’il amar dari fi’il tsulatsi mujarrod.
d)   Fi’il Madhi,masdhar, dan fi’il amar dari fi’il humasi dan sudasi.

Didalam empat tempat ini hamzahnya tidak diletakkan diatas ataupun dibawah alif, tujuannya untuk membedakan antara hamzah washol dengan qatha’. Sedangkan hamzah qatha’ itu berada diselain tempat yang telah disebutkan diatas. Yakni didalam isim mufrad, isim tasniyah dan isim ijma’. Hamzah qatha’ ditulis diatasnya alif pengganti
apabila harokat hamzah tersebut fathah dan dhammah.(J. S. Muhammad)
2.  Cara penulisan hamzah ditengah kalimat.
Hamzah yang berada ditengah kalimat itu mempunya lima model tulisan, yaitu
a.  Ditulis dengan alif didalam dua tempat, yaitu :
·      Apabila berharokat sukun atau berharokat fathah sekalipun hamzah tersebut bertasydid setelah huruf yang berharokat fathah sekalipun huruf tersebut bertasydid. Contohnya : يَأمُرُ) ).
·      Apabila berharokat fathah yang berada disetelah huruf shahih yang mati dari setelah hamzah tersebut tidak ada alif tatsniyah atau alif pengganti tanwin. Contohnya : (يُسْأَلُ)
b.  Ditulis dengan wawu didalam tiga tempay, yaitu :
·      Apabila berharokat dhommah yang berada disetelahnya huruf mati yang selain wawu atau ya dan tidak ada wawu mad sesudahnya. Contohnya : أُرْؤُس.
·      apabila berharokat dhommah yang berada disetelah harokat fathah yang tidak menengah-nengahi diantara dua wawu dalam satu kalimat dan tidak ada wawu jama sesudahnya. Contohnya : يَمْلَؤُه
·      apabila berada disetelah huruf yang berharokat dhommah dan huruf tersebut bukan wawu bertasydid dengan syarat hamzahnya tidak berharokat kasroh. Contohnya : جُؤْجُؤان
c.  Ditulis dengan ya’ didalam empat tempat, yaitu :
·      Apabila hamzah tersebut berharokat kasroh yang berada disetelah huruf yang berharokat. Contohnya : سئم
·      Apabila hamzahnya berharokat kasroh dan huruf sebelumnya berharokat sukun. Contohnya : صائم
·      Apabila hamzahnya berharokat sukun dan huruf sebelumnya berharokat kasroh. Contohnya : برئت, برِّئت
·     Apabila hamzahnya berharokat selain harokat kasroh dan huruf sebelumnya berharokat kasroh. Contohnya : رئة, سيئة, ناشؤنِ
d.  Ditulis mufrod dalam empat tempat, yaitu :
·      Apabila berharokat fathah yang berada disetelahnya alif. Contohnya : تضاءل
·      Apabila berharokat fathah atau dhommah yang berada disetelah wawu sukun. Contohnya : وضوؤه
·      Apabila berharokat fathah yang berada disetelah huruf shohih yang mati dan disebelum alif tanwin dan alif tatsniyah. Contohnya : جزءا, جزءان
·      Apabila berharokat dhommah yang berada disetelahnya wawu didalam wazan فعول,مفعل atau hamzah tersebut ditulis dengan alif atau hamzah mufrod sebelum berada ditengah. Contohnya : موءودة
3.  Cara penulisan hamzah diakhir kalimat
Hamzah yang berada diakhir kalimat itu mempunyai dua model tulisan, yaitu :
a.    Ditulis hamzah mufrad apabila huruf sebelum hamzah berharokat sukun atau berupa wawu bertasydid yang dibaca dhommah. Contohnya : مُنْءٌ, نَاءٍ, جَاءَ, شَاءَ, رِدَاءِ, كِسَاءٍ,غِطَاءٍ, بُراَءٍ, وُضُوءٍ
b.    Ditulis dengan huruf yang sesuai dengan harokat huruf sebelumnya apabila huruf sebelumnya berharakat dan bukan wawu bertasydid yang dibaca dhommah. Contohnya :(Ibn) امْرُؤٌ, لُؤْلُؤٌ,تَهَيُّؤٌ, اِمْرِئٍ
  
Kesimpulan

Imla atau diterjemahkan dengan dikte merupakan bagian dari keterampilan menulis (maharah al-kitabah). Muatan yang berada di dalam imla meliputi dua hal, yaitu menulis dan mengucapkan kata serta peletakkan tanda baca secara tepat. Imla juga dapat dikatakan untuk menyampaikan atau mendiktekkan kepada orang lain dengan bantuan pengucapan dan suara agar orang yang didikte memindahkannya berupa tulisan secara baik dan benar sesuai dengan aturan bahasa yang digunakan.
Alif adalah huruf tertentu yang tidak menerima harokat. Dan mempunyai dua tempat, yaitu ditengah kalimat, dan akhir kalimat. Alif layyinah adalah alif yang tidak menerima harakat. Cara membaca alif ini sangat mirip dengan membaca alif biasa pada saat menjadi tanda baca mad, namun demikian untuk membedakan keduanya alif mad dibaca dengan nada datar atau meninggi sedangkan alif layyinah atau maqshuro dibaca dengan nada turun.Alif layyinah adalah perpanjangan suara yang muncul dari penyempurnaan fathah dari huruf sebelumnya.
Yabisah atau Hamzah adalah huruf hijaiyah yang menerima vokal (harakat). Berbeda dengan alif. Alif tidak menerima harakat dan selamanya menyandung sukun. Hamzah terletak di awal, di tengah atau di akhir kalimat. Alif hanya mempunyai satu bentuk, yaitu bentuknya sendiri. Sedangkan hamzah karena dia tidak mempunyai bentuk sendiri maka terkadang ditulis dalam bentuk alif, wawu, atau ya.

Daftar Pustaka

Abdussalam, Muhammad Haru. Qawa’idul Al-Imla’.
Dr. Ibnu, Rawandhy N. Hula, M. A. Qawaid Al-Imla’ Wa Al-Khat. HMJ PBA, 2015.
---. Qawaid Al-Imla’ Wa Al-Khat. Edited by HMJ PBA.
Ibid. No Titl. p. 14.
Ibn, Iman Jazari. “Taqrib An-Nasyr.” Mesir: Dar El-Hadith, 2004, pp. 118–24.
Muhammad, Abdussalam haru. “Qawa’idul Al-Imla.” Mesir: Daaru Sa’d, 1959.
Muhammad, Imam bin Muhammad bin Ali bin Yusuf Ibnu Jazari. “Jazariyah.” Mesir: Dar El-Hadith, 2004, p. 23.
Muhammad, Jamaluddin Syarofi. “Fathul Washid.” Bitonto: Dar Al-Sahaba, 2004, p. 109.
Munjia’ah, Ma’rifatul. “Imla, Teori Dan Terapan.” UIN Malang: Press, 2009, p. 59.


Komentar

Postingan Populer