TEKNIS PENULISAN ALIF LAYYINAH DAN ALIF YABISAH DALAM PEMBELAJARAN QAWAID AL-IMLA’
TEKNIS PENULISAN ALIF LAYYINAH DAN ALIF YABISAH DALAM
PEMBELAJARAN QAWAID AL-IMLA’
Uswatun Hasan
Email : uswatunhasan70@gmail.com
Abstrak
Dalam mempelajari bahasa Arab,
seseorang harus memiliki bekal dan skill khusus dalam menulis huruf-huruf Arab,
agar seseorang bisa menulis dengan baik dan benar, harus dibekali dengan berbagai materi salah
satunya teknis penulisan Alif Layyinah dan Alif Yabisah dalam pembelajaran
Qawaid al-Imla’. Qawaid al-Imla’ adalah salah satu materi keahlian khusus yang
diberikan untuk membekali seseorang yang mempelajari bahasa Arab agar mampu
untuk menulis Arab dengan baik dan benar. Alif layyinah adalah huruf tertentu
yang tidak menerima harakat, sedangkan Alif Yabisah adalah huruf hijaiyyah yang
tidak mempunyai bentuk sendiri dalam tulisan bahasa Arab seperti halnya
huruf-huruf hijaiyyah (ل)،
(س)،
(ب). Tujuannya
adalah agar tidak hanya mampu menulis dengan baik dan benar. Sehingga untuk
mencapai tujuan tersebut, akan jurusan pendidikan Bahasa Arab (PBA)
menyelenggarakan proses pembelajaran Qawaid al-Imla’ selama satu semester.
Proses pembelajaran Qawaid al-Imla’ ini sehingga meliputi materi, metode
pembelajaran, proses pembelajaran, media pembelajaran dan evaluasi/penilaian.
Kata
Kunci : Alif layyinah dan alif yabisah,
bahasa Arab, qawaid al-imla.
Pendahuluan
Imla’
atau diterjemahkan dengan dikte merupakan bagian dari keterampilan menulis
(maharah al-kitabah). Muatan yang berada di dalam imla’ meliputi dua hal, yaitu
menulis dan mengucapkan kata serta peletakkan tanda baca secara tepat.
Imla’,
dalam arti yang luas memiliki pengertian-pengertian yang banyak sekali,
diantaranya adalah sebagai berikut:
a.
Imla’ adalah kajian tentang teori-teori menulis dan
melafalkan huruf hijaiyyah secara benar dalam bentuk tunggal, kata atau kalimat
dan teori-teori tentang tanda baca sekaligus aplikasinya dalam teks
b.
Imla’ yang berkaitan dengan orang yang mendikte dan orang yang didikte, adalah membacakan teks kepada pelajar, baik kata demi kata atau kalimat demi kalimat serta meminta siswa agar menulisnya.
c.
Imla’ juga didefinisikan sebagai penulisan lafadz dengan huruf hijaiyyah dari sebuah pengucapan
Dari
pengertian-pengertian di atas, maka dapat dikatakan bahwa imlak adalah
menyampaikan atau mendiktekkan kepada orang lain dengan bantuan pengucapan dan
suara agar orang yang didikte memindahkannya berupa tulisan secara baik dan
benar sesuai dengan aturan bahasa yang digunakan.
Alif adalah huruf tertentu yang tidak
menerima harakat. Dan mempunyai dua tempat, yaitu ditengah kalimat dan di akhir
kalimat.
Alif Layyinah adalah alif yang tidak
menerima harakat. Cara membaca alif ini mirip dengan membaca
alif biasa pada saat menjadi tanda baca mad namun demikian untuk membedakan
keduanya alif mad dibaca dengan nada datar atau meninggi sedangkan alif
layyinah atau maqshuroh dibaca dengan nada turun.(A. haru Muhammad)
Alif Yabisah
(Hamzah) adalah bagian dari huruf hijaiyyah, yang pada dasarnya tidak ada
perbedaan dengan huruf-huruf hijaiyyah yang lain. Hamzah yang terdapat didalam
Al-Qur’an terbagi menjadi 2 bagian yaitu hamzah washal dan hamzah qatha’.
Alif Yabisah
(huruf hamzah) merupakan fenomena di tengah masyarakat, yang pada umumnya masih
dianggap sama dengan alif, padahal keduanya memiliki perbedaan yang sangat
signifikan dalam berbagai aspek, baik penulisan, fungsi, maupun bentuk.
Adapun masalah yang di dapat dalam pembelajaran Imla’ yaitu tentunya tidak berjalan tanpa hambatan. Hambatan tersebut mengakibatkan
terjadinya kesalahan dalam penulisan imla’, yaitu tulisan dikte diluar kaidah
imla’. Dan kesalahan-kesalahan dalam penulisan tersebut disebabkan oleh
beberapa faktor, yaitu.
a.
Faktor intern pelajar (yang didikte), meliputi rendahnya
motivasi atau minat belajar, kualitas kecerdasan yang rendah, pendengaran atau
penglihatan yang kurang, hilangnya konsentrasi dan perhatian ketika belajar dan
kurangnya waktu belajar.
b.
Faktor intern bahasa, meliputi panjang dan pendeknya teks
yang akan didiktekan kepada pelajar, seperti teks yang lebih tinggi tingkatnya
daripada kemampuan pelajar, atau banyaknya kata-kata dalam teks yang rumit dan
adanya perbedaan antara huruf, kata atau kalimat yang diucapkan dengan yang
ditulis, seperti : Kata الشمسُ
dan diucapkannya :
as-syamsu.
c.
Faktor intern pengajar (pendikte),meliputi pengucapan
yang terlalu cepat atau suara yang terlalu rendah, tidak adanya perbedaan
pengucapan antara satu huruf dengan huruf yang lain. Lemahnya persiapan
kebahasaan pengajar dankurangnya perhatian dan petunjuk pengajar terhadap
kesalahan pelajar untuk melakukan perbaikan.
Tujuan
pembelajaran Imla’ yaitu keberadaan pembelajaran imla’ syarat dengan tujuan.
Secara umum, diharapkan setelah mempelajari imla’, pelajar dapat mengapplikasiannnya
dalam praktik penulisan arab sehari-hari.
Adapun
tujuan-tujuan pembelajaran imla’ yang lainnya adalah melatih pelajar dalam
menulis huruf dan kata secara benar sesuai dengan pemilik Bahasa Arab asli,
membantu pelajar secara lebih yang mengalami kesulitan dalam menulis imla’,
membekali pelajar dengan pengetahuan dan informasi tentang teori-teori
penulisan huruf arab serta mengarahkan pelajar menggunakan indera pendengaran,
penglihatan, pengucapan dan jari-jarinya secara maksimal.
Pembahasan
A. Alif Layyinah
1.
Pengertian
Alif adalah huruf tertentu yang tidak menerima harokat.
Dan mempunyai dua tempat, yaitu ditengah kalimat, dan akhir kalimat. Alif
layyinah adalah alif yang tidak menerima harakat. Cara membaca alif ini sangat
mirip dengan membaca alif biasa pada saat menjadi tanda baca mad, namun
demikian untuk membedakan keduanya alif mad dibaca dengan nada datar atau
meninggi sedangkan alif layyinah atau maqshuroh(Abdussalam)dibaca dengan nada turun. Alif layyinah adalah perpanjangan suara yang muncul dari
penyempurnaan fathah dari huruf sebelumnya.
Alif layyinah biasa disebut dengan “Alif” saja. Ia
selalu mati/sukun,dan tidak menerima harakat. Alif layyinah
mempunyai dua tempat, yaitu di tengah kata dan akhir kata.
Contohnya :(Dr. Ibnu, Rawandhy N. Hula, Qawaid
Al-Imla’ Wa Al-Khat)
No
|
Tertulis
|
Dibaca
|
Tempat
|
1
|
كِتَابٌ
|
كِتَابٌ
|
Tengah Kalimat
|
2
|
عَالِمٌ
|
عَالِمٌ
|
Tengah Kalimat
|
3
|
سَوَاءٌ
|
سَوَاءٌ
|
Akhir Kalimat
|
4
|
سَمَاءٌ
|
سَمَاءٌ
|
Akhir Kalimat
|
2.
Pembagian
a)
Alif Mutawasitoh(Ibid)
Alif ini adalah
alif mutlaq, yaitu dia tidak akan bisa dibaca kecuali dirangkai dengan kata
lain, baik di tengah atau semi tengah. Adapun yang benar-benar ditengah ia
jatuh setelah satu huruf atau lebih dari suatu kata. Seperti kata : قَلَ
Dan alif
mutawashitoh yang semi tengah ia berada pada akhir kata, namun diikuti oleh
huruf atau kata lain seperti ta’marbuthoh, dhomir atau ma istifham.
b)
Alif Mutatharrifah
Alif Ghulayini
menamai Alif Layyinah dengan alif al mutatharrifah, alif di akhir kalimat.
Sebab alif di akhir kalimat nanti tidak hanya berbentuk layyinah (bengkok),
tetapi juga yabisah (berdiri).
3.
Macam-macam
a.
Alif Layyinah
di Tengah Kata(Dr. Ibnu, Rawandhy N. Hula, Qawaid
Al-Imla’ Wa Al-Khat)
Alif Layyinah yang berada ditengah kalimat secara muthlaq ditulis dengan alif baik menengahinya tersebut disebabkan oleh huruf asal.
Contoh ;قال، قام، صام، م
atau selainnya, contoh : فَتاه، ليلاى،
مقتضام،يخشاه، يرضاه، يخشانى، ألام، علام،حتام
b.
Alif Layyinah
di Akhir Kata
Alif Layyinah yang berada di akhir kata terkadang ditulis dengan ya’atau
(alif ta’tanits maqshurah) yaitu ;
·
Didalam setiap isim yang terdiri dari tiga huruf
yang terdapat alif pengganti dari ya’. Contoh الفتى، الهدى
kalau alifnya mengganti wawu maka ditulis alif. Contoh القفا، العصا،
العلا، العصا
·
Didalam setiap isim arobi yang lebih dari tiga huruf dan huruf sebelum terakhir bukanya’ contohصغرى، كبرى، حبلى،
خجلى
dan kalau huruf sebelum terakhir berupaya’ maka ditulis alif dengan secara mutlaq contoh دنيا، قضا، ر، محيا، ثر
·
Didalam lima isim alam ajami contohموسى، عيسى، متى، كسرى، بخارى dan isim alam yang selain lima alam ini ditulis dengan alif دارا، زليجا، فا،
بنها، شبرا
·
Didalam lima isim mabni contoh لدى، أنى، متى،
اولى، الالى selain lima isim mabni tersebut ditulis dengan alif contohأ، اذا، مهما،
·
Didalam setiap fi’il tiga huruf
yang alifnya mengganti dari ya’
contohسعى،
مشى، رعى، رمى
dan kalau alifnya menggantiwawu maka ditulis alif. Contoh دعا، غزا، عفا
dan ada sebagian ulama menulis bagian
yang kelima ini dengan alif secara muthlak.
·
Didalam setiap fi’il yang lebih dari tiga huruf apabila huruf sebelum alif bukanya’
أهدى،
اهتدى، اتى، خلى، صلى dan apabila berupa ya’ maka ditulis alif karena benci berkumpulnya dua bentuk ya’.
Contoh يحيا،
استحيا، تبيا، تز
·
Didalam empat huruf seperti الى، على، حتى، بلى
sedangkan huruf yang lain ditulis alif contoh لا،
هلا، خلا
·
Dan didalam keterangan diatas terdapat dua qaidah yang umum, yaitu ;
·
Setiap alif
yang berada didalam kalimat yang fa’ atau ain fi’ilnya berupa wawu maka ditulis denganya’. Contoh وعى، وقى، جوى، هوى
·
Setiap alif
yang berada didalam kalimat yang ain fi’ilnya berupa hamzah juga ditulis dengan alif karena ulama benci kepada berkumpulnya dua alif. Contoh ى، شأى، فأى
Sebagian ulama berpendapat bahwa kalimat yang diakhiri dengan ya’
itu ditulis dengan alif didalam tujuh tempat,
yaitu ;
a.
Didalam sajak,
yang berupa badi’ musyakalah dari kalimat lain yang ditulis dengan alif.
Contoh : سا مح أخاك أذا هفا، وأنجده أذا هوا (هوى)
b.
Untuk menyerasikan akhir syi’ir, hal ini berada di dalam qashidah yang
pendek seperti qashidahnya Ibnu Duraid
أما
ترى رأسى حاكى# طرةصبح تحت أذ ل الدجا
وا
شتعل المبيض فى مسوده # مثل اشتعال النار فى جمر الغاضا
كانه
الليل البهيم حل فى # أرجا ئه ضوء صباح فانجلاٍ
c.
Didalam
badi’ musyakalah dengan bertujuan jinas seperti :
سيدا
حاز رقى # بما حبانى وأولا
احسنت
برا فقل لى # أحسنت فى الشكر أولا
d.
Didalam
badi’ musyakalah dengan bertujuan tauriyah seperti
بروحى
بدرافى الندى ما أطاع من# نهاه وقدحاز المعالى وزانها
يسا ئل أن ينهى عن الجود نفسه # وها هوا قد بر
العفاة ومانها
e.
Bertujuan
mu’ayah dan ilghaz seperti
أقول لعبد لكا سقاؤ # ونحن
بوادى عبد شمس وها شم
Maksudnya
adalah وهىى يهى yang bermakna lemah. Dan maksud dari شم adalah fi’il dari شام tetapakan ditulis dengan وهاشم yang maksudnya
menyamai dengan penyembah matahari, tujuannya agar mengarah kepada ilghaz.
a. Kalimat datangnya berupa maqshur dan
mamdud dengan dua bahasa sepertiالحلوى و
الحلواء boleh ditulis
dengan alif seperti الحلوا
b. Kalimat yang datangnya berupa kalimat mahmuz
yang menempati ditempatnya kalimat mu’tal sepertiقريت
dengan makna قرأت. Boleh ditulis dengan قرا yang sebenarnya
didalam bahasa ditulis dengan قرى. Begitu juga dengan kalimat ابطا yang sebenarnya
ditulis dengan ابطى
4.
Penulisan Alif Layyinah
Alif
Layyinah adalah huruf alif yang tidak berharakat, cara penulisan huruf ini
tergantung letak huruf tersebut di dalam kata.
(ب)
|
(أ)
|
يُنْظَرُ الفَتَىبالعِلْمَ و
التُّقَى .1
|
قال
زيدٌ عنْ أهَمِّيَة الكِتَابَةِ.1
|
الهُدى
مِنَ الله .2
|
مُحَمَّدٌ فِي الفَصْلِجَاء .2
|
لاَتَقْرَبوْا الصَّلَاةَ و أنْتمْ سكَارَى.3
|
الدُّنْيَامَزْرَ
عةُ الآخِرَةِ.3
|
اسْتَلْقَىالطِفْلُ
على الفِراشِ.4
|
|
جَاء بُخارِى/ كِسرَى/عِيسَى/مُوسَى/فِي
المَسْجِدِ.5
|
|
بخارى، كسرى، عيسى، موسى.6
|
|
سَعَى،
مَشَى.7
|
Perhatikan
contoh di atas bagian (أ) dan (ب). Pada bagian (أ), alif layyinah ditulis berupa huruf
alif, sedangkan pada contoh bagian (ب), alif layyinah ditulis dengan huruf ya’.
Dari
contoh-contoh di atas dapat diambil beberapa kesimpulan :
-
Apabila terletak ditengah kata maka ditulis berupa alif.
-
Apabila terletak
di akhir kata, maka ada dua cara penulisan dalam menulis alif layyinah :
1.
Ditulis berupa huruf Ya’ pada tujuh keadaan berikut :
a.
Pada setiap
ism ats-tsulatsi (kata benda yang mempunyai tiga huruf)
yang memiliki alif sebagai ganti perubahan dari ya’.
Contohnya : الهدى، الفتى
b.
Pada setiap ism ar-ruba’I (kata benda yang mempunyai
empat huruf) atau lebih, yang huruf sebelumnya bukan huruf ya’.
Contohnya :سكارى، المُرتضى
c.
Pada empat nama non-Arab berikut ini : بخارى،
كسرى، عيسى، موسي
d.
Pada lima ism yang mabni (bentuknya tetap)
berikut ini : أولى، متى، أنى، لدى
e.
Pada setiap fi’il ats-tsulatsi (Kata kerja yang
mempunyai tiga huruf) yang memiliki alif sebagai ganti perubahan dariya’.
Contohnya :سعى، مش، هَدى
f.
Pada setiap fi’il ar-ruba’i (kata kerja yang
mempunyai empat huruf) atau lebih yang huruf sebelumnya bukan huruf ya’.
Contohnya : اهتدى،
أهدى
g.
Pada empat
kata berikut ini : (الجواب، بلى، متىن
على) في، ألى
B. Alif Yabisah
1. Pengertian
Hamzah adalah
huruf hijaiyyah yang tidak mempunyai bentuk sendiri dalam tulisan Arab seperti halnya
huruf-huruf hijaiyah lainnya : ( ب
), ( س ), ( ل ), dan lainnya. Karena
itu huruf hijaiyah hanya berjumlah 28 sebab tidak memasukkan hamzah di
dalamnya. Ra’sul’ain atau kepala ‘ain yang biasanya dilambangkan dengan
bentuk “ ء “bukan bentuk
asli hamzah. Tanda ini hanya dipergunakan untuk menandai hamzah qatha’ dan
membedakannya dengan hamzah washal.
Hamzah adalah huruf hijaiyah yang
menerima vokal (harakat). Berbeda dengan alif. Alit tidak menerima harakat dan
selamanya menyandung sukun. Hamzah terletak di awal, di tengah atau di akhir
kalimat. Alif hanya mempunyai satu bentuk, yaitu bentuknya sendiri.(Munjia’ah) Sedangkan hamzah karena dia tidak
mempunyai bentuk sendiri maka terkadang ditulis dalam bentuk alif, wawu, atau
ya.
2.
Pembagian dan contohnya
Alif yabisah (hamzah) memiliki 2
bagian, yaitu :
a. Hamzah Qatha’
Hamzah qatha’ berarti hamzah yang
terputus, dalam arti cara membacanya terputus, tidak diteruskan karena itu ia
tetap terbaca. Sedangkan menurut ulama Qurra’ hamzah qatha’ adalah :
هَمْزَةُ الْقَطَعِ هِيَ الْهَمْزَةُ الَّتِيْ تَثْبُتُ فِيْ النَّظْقِ دَائِمًا
سَوَاءٌ الْكَلاَمِ أَمْ فِيْ وَصِلَهِ.
Hamzah yang dapat diucapkan selamanya,
baik permulaan kalimat maupun ditengah-tengahnya.
Pada hamzah qatha’ dalam Mushaf Ustmani
ditandai dengan (ء) pada huruf (۱). Jika alif berharokat fathah dan
dhammah, maka (
أُ. أَ ) hamzahnya
diatas, tetapi jika alif berharakat kasrah, maka ( إِ ) hamzahnya dibawah alif.
Contohnya
:
No
|
Tertulis
|
Dibaca
|
Tempat
|
1
|
إِخْوَاةٌ
|
إِخْوَاةٌ
|
Awal kalimat
|
2
|
أَتَيْنَا
|
أَتَيْنَا
|
Awal kalimat
|
3
|
جَاءَ
كُمْ
|
جَاءَ
كُمْ
|
Tengah kalimat
|
4
|
شُهَدَااكُمْ
|
شُهَدَااكُمْ
|
Tengah kalimat
|
b. Hamzah Washal
Hamzah washal berarti hamzah yang
sambung atau tembus, dalam arti hamzah itu tidak dibaca ketika ditengah-tengah
kalimat, namun dibaca jika diawalnya. Pengertian menurut Ulama Qurra’
هَمْزَةُ
الْقَطَعِ هِيَ الْهَمْزَةُ الَّتِيْ
تَظْهَرُ فِيْ النَّظْقِ اِذَاجَاءَتْ فِيْ بَدَءِ الْكَلاَمِ اَمْ وَلاَ تَظْهَرُ
وَصِلَتْ بِمَا قَبْلَهَا.
Hamzah yang tampak diucapkan jika
diawal kalimat, tetapi tembus (tidak tampak) jika disambung dengan huruf lain.
Pada hamzah washal dalam mushaf Ustmani
tidak ditandai seperti hamzah qatha’, tetapi cukup dengan huruf asli saja. Yang
peril diingat bahwa hamzah washal ini tidak seperti alif huruf mad, sebab alif
huruf Mad selamanya mati, sedangkan hamzah washal tetap hidup, walaupun ketika
disambung tidak diucapkan.
Contohnya :(I. bin M. bin A. bin Y. I. J. Muhammad)
No
|
Tertulis
|
Dibaca
|
Tempat
|
1
|
اِتَّبِعُوْا
|
اِتَّبِعُوْا
|
Awal kalimat
|
2
|
اِهْبِطَوْا
|
اِهْبِطَوْا
|
Awal kalimat
|
3
|
عِيْسِ
ابْنِ مَرْيَمْ
|
عِيْسِ
ابْنِ مَرْيَمْ
|
Tengah kalimat
|
4
|
بِئْسِ
الْاِسْمُ
|
بِئْسِ
الْاِسْمُ
|
Tengah kalimat
|
3. Macam-macam
Ada beberapa macam bentuk hamzah, yaitu
:
· Hamzah Washol
· Hamzah Qot’i
· Penulisan Hamzah ditengah Kalimat
diatas Nabroh ya’
· Penulisan Hamzah ditengah Kalimat
diatas huruf wawu’
· Penulisan Hamzah ditengah Kalimat,
sendirian
· Penulisan Hamzah diakhir Kata
4. Penulisan
1. Cara penulisan hamzah yang ada diawal
kalimat
Hamzah yang ada dipermulaan kalimat
baik hamzah washol atau qatha’ itu ditulis dengan alif.
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
الَّذِى أَمَرَ النَّاسَ بِالصَّلاَةِ.
Hamzah washol itu berada didalam 4 ,
yaitu :
a)
Isim yang sepuluh :
اِسْمٌ,
اِسْتٌ, اِبْنٌ, اِبْنَةٌ, اِبْنُمُ, اِمْرُؤٌ, اِمْرَأةٌ.
b)
ال baik Al-Syamsiyah/Al-Qamariyah.
c)
Fi’il amar dari fi’il tsulatsi mujarrod.
d)
Fi’il Madhi,masdhar, dan fi’il amar dari fi’il humasi dan
sudasi.
Didalam
empat tempat ini hamzahnya tidak diletakkan diatas ataupun dibawah alif,
tujuannya untuk membedakan antara hamzah washol dengan qatha’. Sedangkan hamzah
qatha’ itu berada diselain tempat yang telah disebutkan diatas. Yakni didalam
isim mufrad, isim tasniyah dan isim ijma’. Hamzah qatha’ ditulis diatasnya alif
pengganti
apabila harokat hamzah tersebut fathah
dan dhammah.(J. S. Muhammad)
2. Cara penulisan hamzah ditengah kalimat.
Hamzah yang berada ditengah kalimat itu
mempunya lima model tulisan, yaitu
a. Ditulis dengan alif didalam dua tempat,
yaitu :
· Apabila berharokat sukun atau
berharokat fathah sekalipun hamzah tersebut bertasydid setelah huruf yang
berharokat fathah sekalipun huruf tersebut bertasydid. Contohnya : يَأمُرُ) ).
· Apabila berharokat fathah yang berada
disetelah huruf shahih yang mati dari setelah hamzah tersebut tidak ada alif
tatsniyah atau alif pengganti tanwin. Contohnya : (يُسْأَلُ)
b.
Ditulis dengan wawu didalam tiga
tempay, yaitu :
· Apabila berharokat
dhommah yang berada disetelahnya huruf mati yang selain wawu atau ya dan tidak
ada wawu mad sesudahnya. Contohnya : أُرْؤُس.
· apabila berharokat
dhommah yang berada disetelah harokat fathah yang tidak menengah-nengahi
diantara dua wawu dalam satu kalimat dan tidak ada wawu jama sesudahnya.
Contohnya : يَمْلَؤُه
· apabila berada
disetelah huruf yang berharokat dhommah dan huruf tersebut bukan wawu
bertasydid dengan syarat hamzahnya tidak berharokat kasroh. Contohnya : جُؤْجُؤان
c.
Ditulis dengan ya’ didalam empat
tempat, yaitu :
· Apabila hamzah
tersebut berharokat kasroh yang berada disetelah huruf yang berharokat.
Contohnya : سئم
· Apabila hamzahnya
berharokat kasroh dan huruf sebelumnya berharokat sukun. Contohnya : صائم
· Apabila hamzahnya
berharokat sukun dan huruf sebelumnya berharokat kasroh. Contohnya : برئت, برِّئت
· Apabila hamzahnya
berharokat selain harokat kasroh dan huruf sebelumnya berharokat kasroh.
Contohnya : رئة, سيئة, ناشؤنِ
d.
Ditulis mufrod dalam empat tempat,
yaitu :
·
Apabila berharokat fathah yang berada disetelahnya alif.
Contohnya : تضاءل
·
Apabila berharokat fathah atau dhommah yang berada
disetelah wawu sukun. Contohnya : وضوؤه
·
Apabila berharokat fathah yang berada disetelah huruf
shohih yang mati dan disebelum alif tanwin dan alif tatsniyah. Contohnya : جزءا, جزءان
·
Apabila berharokat dhommah yang berada disetelahnya wawu
didalam wazan فعول,مفعل
atau hamzah tersebut ditulis dengan alif atau hamzah mufrod sebelum berada
ditengah. Contohnya : موءودة
3.
Cara penulisan hamzah diakhir kalimat
Hamzah yang berada
diakhir kalimat itu mempunyai dua model tulisan, yaitu :
a.
Ditulis hamzah mufrad apabila huruf sebelum hamzah
berharokat sukun atau berupa wawu bertasydid yang dibaca dhommah. Contohnya : مُنْءٌ, نَاءٍ, جَاءَ, شَاءَ, رِدَاءِ, كِسَاءٍ,غِطَاءٍ, بُراَءٍ,
وُضُوءٍ
b.
Ditulis dengan huruf yang sesuai dengan harokat huruf
sebelumnya apabila huruf sebelumnya berharakat dan bukan wawu bertasydid yang
dibaca dhommah. Contohnya :(Ibn) امْرُؤٌ, لُؤْلُؤٌ,تَهَيُّؤٌ, اِمْرِئٍ
Kesimpulan
Imla’
atau diterjemahkan dengan dikte merupakan bagian dari keterampilan menulis
(maharah al-kitabah). Muatan yang berada di dalam imla’ meliputi dua hal, yaitu menulis dan mengucapkan kata serta
peletakkan tanda baca secara tepat. Imla’
juga dapat dikatakan untuk menyampaikan
atau mendiktekkan kepada orang lain dengan bantuan pengucapan dan suara agar
orang yang didikte memindahkannya berupa tulisan secara baik dan benar sesuai
dengan aturan bahasa yang digunakan.
Alif adalah huruf
tertentu yang tidak menerima harokat. Dan mempunyai dua tempat, yaitu
ditengah kalimat, dan akhir kalimat.
Alif layyinah
adalah alif yang tidak menerima harakat. Cara membaca alif ini sangat mirip
dengan membaca alif biasa pada saat menjadi tanda baca mad, namun demikian
untuk membedakan keduanya alif mad dibaca dengan nada datar atau meninggi
sedangkan alif layyinah atau maqshuro dibaca dengan nada turun.Alif
layyinah adalah perpanjangan suara yang muncul dari penyempurnaan fathah dari
huruf sebelumnya.
Yabisah atau Hamzah adalah huruf
hijaiyah yang menerima vokal (harakat). Berbeda dengan alif. Alif tidak
menerima harakat dan selamanya menyandung sukun. Hamzah terletak di awal, di
tengah atau di akhir kalimat. Alif hanya mempunyai satu bentuk, yaitu bentuknya
sendiri. Sedangkan hamzah karena dia tidak mempunyai bentuk sendiri maka
terkadang ditulis dalam bentuk alif, wawu, atau ya.
Daftar Pustaka
Abdussalam, Muhammad Haru. Qawa’idul
Al-Imla’.
Dr. Ibnu, Rawandhy N.
Hula, M. A. Qawaid Al-Imla’ Wa Al-Khat. HMJ PBA, 2015.
---. Qawaid
Al-Imla’ Wa Al-Khat. Edited by HMJ PBA.
Ibid. No Titl.
p. 14.
Ibn, Iman Jazari.
“Taqrib An-Nasyr.” Mesir: Dar El-Hadith, 2004, pp. 118–24.
Muhammad, Abdussalam
haru. “Qawa’idul Al-Imla.” Mesir: Daaru Sa’d, 1959.
Muhammad, Imam bin
Muhammad bin Ali bin Yusuf Ibnu Jazari. “Jazariyah.” Mesir : Dar El-Hadith, 2004, p. 23.
Muhammad, Jamaluddin
Syarofi. “Fathul Washid.” Bitonto: Dar Al-Sahaba, 2004, p. 109.
Munjia’ah, Ma’rifatul.
“Imla, Teori Dan Terapan.” UIN Malang: Press, 2009, p. 59.
Komentar
Posting Komentar